Infoberitanasional.com-REJANG LEBONG, BENGKULU – Penyaluran bantuan sosial (bansos) beras sembako di Desa Tebat Tenung Dalam, Kecamatan Bermani Ulu, Kabupaten Rejang Lebong memicu protes keras dari warga setempat. Distribusi bantuan yang berlangsung pada Kamis pukul 09.00 WIB dinilai karut-marut dan jauh dari asas keadilan.
Masyarakat mengeluhkan banyaknya data penerima yang tidak tepat sasaran. Warga miskin, janda, dan keluarga telantar justru dicoret dari daftar penerima. Sebaliknya, sejumlah warga yang tergolong mampu, memiliki rumah layak, sawah luas, hingga perkebunan kopi seluas 2-3 hektar, justru keluar sebagai penerima bantuan. Bahkan, ditemukan data warga yang sudah meninggal dunia namun namanya masih tercantum mendapat bantuan.Dugaan Nepotisme Perangkat Desa
Perwakilan warga, Sariyem Sumantri, mengungkapkan kekecewaannya dan menduga kuat adanya permainan dalam pendataan di tingkat pemerintahan desa.
“Kami menduga ada indikasi nepotisme dari oknum perangkat desa. Banyak penerima bantuan merupakan keluarga dekat Kepala Desa yang secara ekonomi sudah sangat mampu. Sementara kami yang berjuang sekadar untuk makan sehari-hari justru dianggap mampu dan tidak mendapat apa-apa,” ujar Sariyem dengan nada kecewa.
Warga menyadari bahwa data yang digunakan pemerintah pusat bermuara dari usulan pihak desa. Oleh karena itu, perangkat desa dinilai tidak mungkin tidak mengetahui adanya ketimpangan data yang terjadi di lapangan.
Polemik Eksklusi Akibat Judi Online
Kondisi ini diperparah dengan adanya kebijakan sistem yang mengeluarkan (eksklusi) sejumlah nama penerima bansos karena terindikasi atau tercatat dalam aktivitas judi online (judol). Warga menilai sistem ini sangat merugikan, terutama bagi kalangan ibu rumah tangga dan janda.
“Banyak dari kami para janda dan anak-anak yang sama sekali tidak tahu apa itu judi online. Namun, data kami terkena dampak eksklusi sehingga bantuan dihentikan. Ironisnya, ada sebagian warga lain yang juga terindikasi serupa tetapi tetap menerima bantuan. Kami merasa menjadi tumbal dari sistem pendataan yang lemah, atau kemungkinan ada penyalahgunaan data KTP kami oleh orang lain tanpa izin,” lanjut Sariyem.
Desakan Kepada Presiden, Menko/Menteri Terkait, dan Bulog Menyikapi carut-marut penataan ini, warga Desa Tebat Tenung Dalam melayangkan desakan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, jajaran Menteri terkait, serta Kepala Cabang Kantor Bulog setempat untuk segera turun tangan.Warga menuntut tiga poin utama perbaikan:
Audit dan Verifikasi Faktual: Meminta Bulog dan Kementerian Sosial mengaudit ulang seluruh data penerima bansos di Rejang Lebong agar tidak ada lagi data warga meninggal atau warga mampu yang masuk daftar.
Evaluasi Sistem Eksklusi: Meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan pemblokiran bansos akibat indikasi judi online agar tidak salah sasaran dan merugikan kaum perempuan serta anak-anak yang tidak bersalah.
Pemberantasan Oknum Desa: Meminta aparat penegak hukum dan dinas terkait memeriksa dugaan penyalahgunaan wewenang dan nepotisme yang dilakukan oleh oknum kepala desa dan perangkatnya dalam menentukan prioritas penerima bantuan.
Warga berharap pemerintah pusat mendengar jeritan hati masyarakat kecil di daerah demi menyelamatkan masa depan anak-anak miskin yang haknya terampas oleh ketidakadilan sistem dan permainan oknum di lapangan.
Pewarta Seriyem Sumantri


