Infoberitanasional.com-Bandar Lampung, 28 Agustus 2026 – Berangkat dari kepedulian mendalam terhadap
kelestarian ekosistem pesisir, Forum Corporate Social Responsibility Lampung (FCL)
menggalang sinergi lintas sektor. Sebelumnya, anggota FCL antara lain PT Nestle Indonesia
Pabrik Panjang, PT Keong Nusantara Abadi, Tunas Dwipa Matra (TDM) telah menaman 4000
bibit di area Merak Belantung, Kalianda. Sebagai kelanjutan dari aksi gotong royong hijau itu
gerakan kolaboratif ini menaikkan jumlahnya dengan menanam 8.000 bibit mangrove di Desa
Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan.
Kali ini motor utama penanaman adalah PT SMA dengan menggandeng PT Konverta Mitra
Abadi dan Optima Nusa 7. Untuk proses penanaman dan pemeliharaan pohon kali ini
dilakukan langsung oleh masyarakat Desa Sumber Nadi di bawah koordinasi Kepala Desanya
Ketut Sinda Atmita.
Prosesi penyerahan bibit secara simbolis dilangsungkan dengan dihadiri oleh jajaran
pemangku kepentingan. Hadir mewakili Bupati Lampung Selatan, Asisten Bidang Ekonomi dan
Pembangunan (Ekobang) Dr. Tri Umaryani, S.P., M.Si., dan tampak juga perwakilan Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Lingkungan Hidup, hingga Camat dan
Kepala Desa.
Direktur PT SMA, Tatang Rohadi,S.T.M.Si, menegaskan bahwa aksi ini lahir dari kesadaran
mendalam korporasi terhadap tanggung jawab ekologis. Menurutnya, kepedulian
perusahaan terhadap kelestarian alam bukan lagi sekadar program pelengkap, melainkan
sebuah kewajiban mutlak yang mendesak di tengah ancaman krisis iklim global saat ini. 5000
batang manggove ini akan ditanam pada lahan seluas 2 hektar dan 3000 lebihnya akan
dialokasikan untuk tambal sulam area yang rusak. Perusahaan dan warga dibawah pimpinan
akan terus memantau untuk memastikan agar bibit betul-betul tumbuh.
“Kami PT SMA dan perusahaan-perusahan yang tergabung di FCL menyadari betul bahwa
keberlanjutan bisnis tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan di sekitar kita.
Wilayah pesisir Ketapang dan Lampung Selatan secara umum dikelilingi oleh garis pantai yang
panjang, namun di sisi lain menyimpan kerentanan yang tinggi terhadap dampak perubahan
iklim. Kita perlu melakukan upaya untuk memitigasi bencana berbasis ekosistem dengan
membentengi wilayah pesisir Lampung dari ancaman abrasi, banjir rob, dan krisis iklim global.
Mangrove ini adalah investasi masa depan untuk menjaga tanah pesisir dari abrasi dan
melindungi ruang hidup generasi mendatang. Kami juga sangat mengapresiasi eratnya
kolaborasi pentahelix dalam kegiatan ini. Ketika elemen swasta, BUMN, BUMD, pemerintah, akademisi, media, dan komunitas bergerak bersama dalam satu frekuensi, tidak ada
tantangan lingkungan yang tidak bisa kita urai,” ujar Tatang Rohadi,S.T.M.Si.
Apresiasi senada juga datang dari pihak eksekutif daerah. Dalam sambutan tertulis Bupati
Lampung Selatan yang dibacakan oleh Asisten Ekobang, Dr. Tri Umaryani, S.P., M.Si.,
Pemerintah Kabupaten menyampaikan rasa terima kasih dan dukungan penuh kepada PT
SMA dan perusahaan yang tergabung di Forum CSR Lampung yang terlibat dalam kegiatan ini.
Mengingat garis pantai Lampung, khususnya Lampung Selatan yang panjang dan berhadapan
langsung dengan dinamika Selat Sunda, perlindungan vegetasi yang kokoh dinilai sangat
krusial. Pemerintah menegaskan bahwa degradasi lahan pesisir tidak hanya merusak
infrastruktur dan potensi pariwisata daerah, tetapi juga berdampak langsung pada mata
pencaharian nelayan lokal. Penguatan ekosistem mangrove tepat dilakukan karena perannya
yang sangat efektif sebagai penyerap karbon (blue carbon) serta benteng alami
keanekaragaman hayati pesisir. Sinergi Forum CSR ini dinilai sebagai langkah mitigasi berbasis
ekosistem yang tepat untuk memperkuat ketahanan wilayah secara berkesinambungan.
Menutup rangkaian pemikiran tersebut, Ketua Forum CSR Lampung, Dr. Veronika Saptarini,
S.H., M.M., menjelaskan bahwa gerakan ini membawa pesan edukasi yang kuat mengenai
esensi gotong royong yang merupakan nilai luhur bangsa Indonesia. Aksi ini menjadi salah
satu contoh bagaimana elemen swasta, BUMN, BUMD, hingga jaringan komunitas dapat
menyatu dengan harmonis tanpa sekat birokrasi demi kepentingan publik.
Dari penanaman chapter Merak Belantung hingga chapter Desa Sumber Nadi, seluruh
fasilitas penunjang dalam aksi kolaboratif ini—mulai dari penyediaan bibit, akomodasi,
logistik konsumsi, peralatan kerja, hingga tenaga lapangan untuk perawatan pasca-tanam—
disokong bersama secara non-tunai melalui sinergi Bank Lampung, PT Keong Nusantara Abadi
(Wong Coco), Pertamina Geothermal Energy (PGE), Roti Jordan, PT Nestle Indonesia, Great
Giant Food (GGF), PT Lambang Jaya, Adyatama dan Yayasan Langit Sapta.
“Ini betul-betul gotong royong murni. Tidak ada cerita besar dan kecil, tidak ada transaksi
uang tunai yang berputar dalam kegiatan ini. Semua bentuk kontribusi sangat berarti disini”
ujar perempuan yang akrab disapa Rini tersebut.
Lebih lanjut, Rini yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi CSR UBL ini memberikan
edukasi penting mengenai tata kelola tanggung jawab sosial perusahaan. Ia mengingatkan
bahwa penggelontoran CSR dalam bentuk dana tunai—tanpa adanya mekanisme hukum
akuntabilitas yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum—justru
menimbulkan risiko tata kelola yang tinggi. Pola tunai yang tidak transparan rawan terhadap
penyalahgunaan, berpotensi memicu jerat hukum bagi korporasi maupun penerima, serta
cenderung hanya memberikan manfaat jangka pendek yang tidak merata. Oleh karena itu,
tata kelola CSR wajib mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan
hukum di setiap tahapan.
Model gotong royong berbasis program fisik dinilai jauh lebih aman dan berdampak luas bagi
masyarakat. “Bayangkan jika seluruh potensi Swasta, BUMN, BUMD, dan komunitas
berhimpun menyatukan fokus CSR-nya. Perusahaan yang bergerak di bidang sarana
prasarana bergabung dengan yang fokus pada edukasi, kesehatan, nutrisi, hingga keterampilan. Kita tidak hanya bisa menanam mangrove, tetapi juga bisa membangun
kawasan eduwisata. Sinergi sejenis juga bisa dilakukan untuk membangun wilayah atau desa
produktif yang mandiri secara ekonomi di berbagai wilayah Provinsi Lampung, seperti yang
dicanangkan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal ” urai Rini
Pola ini sekaligus membuat korporasi yang tengah menghadapi kesulitan ekonomi namun
tetap memiliki komitmen dalam membangun bisnis dan pembangunan yang berkelanjutan,
Pelaku usaha tidak perlu menambah alokasi anggaran CSR yang sudah ada, melainkan cukup
menyelaraskan sebagian anggaran tersebut dengan program prioritas pembangunan daerah
dengan sistem gotong royong ini. Makin banyak perusahaan bergabung di Forum CSR, akan
makin banyak masalah bisa terselesaikan. Sebagai penutup, Forum CSR Lampung
mengingatkan bahwa keberhasilan investasi sosial ini tetap berada di tangan masyarakat
penerima manfaat. Warga setempat diimbau untuk ikut menjaga, merawat, dan
memanfaatkan seluruh fasilitas yang diberikan agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk saat
ini, namun juga untuk anak cucu mendatang


